Breaking News
kameralı chat
Home / Info Utama / Ekonomi ASEAN 2016

Ekonomi ASEAN 2016

Masyarakat Ekonomi ASEAN 2016:

Pengembangan Rantai Nilai Dalam

Meningkatkan Daya Saing Agribisnis Di Era “MEA”

Akankah Indonesia, sebagai wilayah terluas pakta Masyarakat Ekonomi ASEAN akan hanya sekadar menjadi pasar tenaga kerja dan produk negara lainnya tanpa mampu berbuat apapun?

Oleh Tomy Perdana

Dosen dan Ketua Pusat Studi Sistem Rantai Pasok dan Logistik Pertanian (AGRILOGICS) Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Bandung.

asean

 Tanpa terasa, sejak awal tahun 2016 masyarakat Indonesia telah memasuki era ekonomi baru, yakni masyarakat ekonomi ASEAN (MEA). Indonesia telah menjadi pasar tunggal dan basis produksi yang meliputi 10 negara ASEAN dengan jumlah penduduk sekitar 565 juta orang.
Selain negara ASEAN (Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura. Brunei Darussalam, Vietnam, Laos, Kamboja, Myanmar, Filipina), MEA juga memiliki 6 negara mitra, yakni China, Jepang, Korea Selatan, India, Australia dan Selandia Baru. Dengan demikian, jumlah konsumen potensial pada era MEA menjadi sangat besar, yakni di atas 3 milyar penduduk. Pasar tunggal dan basis produksi MEA plus 6 negara mitra menyebabkan kawasan ASEAN menjadi suatu kawasan perekonomian yang berdaya saing, terintegrasi dengan ekonomi global serta memiliki pertumbuhan ekonomi yang tinggi.                                                                                                                                                          Salah satu sektor yang diunggulkan Indonesia dalam
era MEA adalah sektor agribisnis yang meliputi sektor pertanian plus manufaktur berbasis hasil pertanian dan pemasaran. Pemilihan sektor tersebut karena faktor kapasitas sumber daya agribisnis Indonesia yang berlimpah, seperti iklim tropis yang memungkinkan sebagian tanaman berproduksi sepanjang waktu, areal pertanian yang luas serta jumlah sumber daya manusia yang bekerja di sektor pertanian yang cukup banyak. Demikian pula halnya dengan jumlah penduduk Indonesia yang besar menjadi potensi pasar domestik yang menarik.
Akan tetapi, saat ini sektor agribisnis Indonesia memiliki kinerja yang kurang menggembirakan, di antaranya semakin meningkatnya impor pangan utama serta menurunnya kinerja ekspor beberapa komoditas pertanian, seperti teh dan produk hortikultura.                                                                                                                                                        Biaya logistik pertanian di Indonesia pun tinggi, yaitu di atas 15% dari biaya total. Kondisi tersebut disebabkan oleh infrastruktur logistik pertanian dari sentra produksi ke pusat konsumen tidak dalam kondisi yang baik serta tidak lengkap. Kondisi infrastruktur logistik pertanian tersebut menyebabkan tingkat kehilangan hasil dalam proses logistik yang tinggi sehingga diperhitungkan sebagai biaya logistik yang dibebankan kepada konsumen. Efektifitas penelitian dan pengembangan (litbang) pertanian juga cukup rendah, ditambah dengan kurangnya dukungan pembiayaan pertanian dari perbankan
maupun non perbankan.
Kondisi ini terjadi karena lembaga pembiayaan tidak memahami manajemen resiko pertanian atau agribisnis. Dalam mengatasi persoalan-persoalan di atas maka diperlukan berbagai upaya sistematis agar daya saing agribisnis nasional dan regional Jawa Barat meningkat. Salah satu upaya tersebut adalah dengan mengembangkan rantai nilai agribisnis. Rantai nilai mengacu pada keseluruhan aktivitas yang diperlukan untuk memindahkan barang (atau jasa) mulai dari fase konsep sampai, masuk ke tahap produksi, sampai ke tangan konsumen akhir dan akhirnya dibuang setelah selesai dikonsumsi (Kaplinsky dan Moris, 2001).

Tiga tahapan dalam mengembangkan rantai nilai adalah evaluasi, perencanaan, dan pelaksanaan.

     Tahap pertama: Evaluasi
Terdapat tiga aktivitas utama dalam tahapan evaluasi yang merupakan tahapan dasar dalam menentukan apakah rantai nilai tersebut dapat bermanfaat bagi anda. Aktivitas-aktivitas dalam Tahap Evaluasi:                                                 (1) Mengevaluasi ide dan pasar; (2) Memeriksa kembali strategi; (3) Menentukan sumber daya, resiko, dan hasil yang ingin dicapai.

    Tahap kedua: Perencanaan
Ketika anda memutuskan untuk menggunakan pendekatan rantai nilai, anda harus mulai membangun fondasi. Perencanaan yang teliti akan menghemat banyak waktu dan uang dalam jangka waktu yang panjang.Tahap Perencanaan: (1) Memilih rekan kerja; (2) Membangun hubungan; (3) Kesepakatan dalam tujuan dan pengukuran.

     Tahap ketiga: Pelaksanaan                                                                                                                                          Ketika strategi sudah berhasil disusun, pasar terlihat menjanjikan, dan posisi perusahaan sudah stabil, tiba saatnya untuk meluncurkan proyek utama dari rantai nilai. Ini merupakan cara pertama yang paling bijak untuk memulai tahapan pelaksanaan. Aktivitas-aktivitas dalam tahap pelaksanaan: (1) Membuat proyek percontohan; (2) Mengintegrasikan sistem; (3)Membangun dan mengadaptasi.

About admin_bangsos

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eskişehir escort rokettube porno